Selasa, 25 November 2008

PENGANTAR

Jagung merupakan salah satu komoditas pangan yang mempunyai peranan strategis dalam perekonomian nasional Indonesia. Kebutuhan terhadap komoditas ini terus meningkat, baik untuk pangan maupun pakan dan industri, apalagi dengan berkembangnya usaha peternakan di Indonesia akhir-akhir ini. Pada saat produksi dalam negeri tidak mencukupi, pemerintah harus mengimpor jagung untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan jagung nasional dan menekan volume impor, pemerintah telah mencanangkan program peningkatan produksi jagung sejak 2007 dengan sasaran swasembada.
Salah satu strategi dalam peningkatan nasional jagung adalah meningkatkan produktivitas yang hingga saat ini baru mencapai 3,6 ton/ha, sementara di tingkat penelitian dapat mencapai 7-10 ton/ha. Dalam hal ini inovasi teknologi memegang peranan penting. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas unggul yang di budidayakan dengan pendekatan pengelolaan tanaman secara terpadu mampu meningkatkan produksi jagung dan efisiensi input produksi. Pengalaman menunjukkan pula bahwa Sekolah Lapang Pengendalian Hama secara Terpadu (SL-PHT) dengan sistem belajar langsung di lahan petani dapat mempercepat alih teknologi. Keberhasilan SL-PHT yang akhir-akhir ini marak dijadikan sebagai acuan dalam penerapan pertanian organik dan perlu ditindak lanjuti oleh berbagai komponen anak bangsa sehingga memberikan kontribusi positif bagi pengembangan agroekosistem kedepan demi tercapainya suasembada jagung nasional
Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SL-PHT) dengan mensinergikan dan memperluas cakupan SL-PHT dan berbagai program dengan sasaran peningkatan produksi dan efisiensi usahatani. Agar berdaya guna dan berhasil, SL-PHT dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan berbagai institusi yang kompeten, baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, maupun kecamatan, dan bahkan tingkat desa. Makala penulisan pelaksanaan SL-PHT jagung ini disusun berdasarkan pengalaman penyelenggaraan SL-PHT dan diperkaya dengan pengalaman dalam pengembangan inovasi teknologi jagung dengan pendekatan Ekologi di berbagai lokasi di Indonesia. Saya berharap makala ini dapat dijadikan acuan oleh institusi terkait di lingkup-lingkup Departemen Pertanian, narasumber, pelatih, dan fasilitator atau pemandu lapang dalam pelaksanaan SL-PHT jagung dalam upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani. Mudah-mudahan upaya kita untuk meningkatkan produksi jagung nasional mendapatkan ridho dan berkah dariNya



PENULIS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pengendalian Hama Terpadu atau Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) merupakan dasar kebijakan pemerintah Indonesia dalam program perlindungan tanaman sebagai suatu sistem pengendalian hama dengan pendekatan holistik dan komprehensif berdasarkan pemahaman pada ekosistem melalui pengintegrasian berbagai teknik pengendalian parsial yang kompatibel satu sama lain sehingga populasi hama berada pada tingkat yang secara ekonomi tidak merugikan (Soenarjo, 2000). Menurut Oka (1995) PHT merupakan penyatuan dua atau lebih cara pengendalian kedalam sistem yang harmonis dan terencana untuk mempertahankan hama dibawah tingkat yang merugikan
Konsep PHT di Indonesia adalah koreksi terhadap kebijakan pengendalian hama secara konvesional yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida dan mengakibatkan penggunaan pestisida oleh petani yang tidak tepat dan berlebihan, Abadi (2005). Widiarta, et al., (2007) menyatakan konsep PHT merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam pengelolaan hama, meskipun pestisida telah memberikan kontribusi cukup besar bagi peningkatan produksi tanaman, tetapi pestisida juga berdampak negative bagi lingkungan, munculnya resistensi dan resurjensi beberapa jenis hama, residu pestisida pada produk dan matinya organisme bukan sasaran, termasuk musuh alami yang sebenarnya berpotensi untuk mengendalikan hama.
Perkembangan menarik tentang penerapan PHT oleh petani di dokumentasikan oleh Wagee (1996) sebagai mana hal tersebut dikatakan bahwa Indonesia merupakan pelopor yaitu dengan melatih ratusan rebut petani mengenai PHT langsung di lapangan. Forum pelatihan kelompok tani PHT tersebut dinamakan SLPHT.
Sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SLPHT) merupakan metode yang efektif dalam memberdayakan petani dalam mengambil keputusan berdasarkan prinsip dan asas SLPHT dan PHT. Lebih dari 10 tahun Indonesia telah melaksanakan SLPHT dan jumlah petani yang dibina sekitar satu juta petani. Namu hasil dan dampak SLPHT terhadap prilaku petani dalam meningkatkan pengetahuannya dan keterampilannya masih minim dilakukan, sehingga sangat diperlukan untuk melakukan kegiatan analisis untuk mengetahui seberapa besar danpak keikut sertaan petani dalam SLPHT terhadap perubahan tingkat pengetahuan dan keterampilan petani dalam penerapan PHT di lahan jagungnya

B. Tujuan makalah
Untuk mengetahui dampak SLPHT terhadap perubahan prilaku petani jagung (Zea mays L) dalam menerapkan PHT di lahannya
Menganalisis secara umum manfaat dari SLPHT dan kemudian merumuskan kegiatan tindak lanjut SLPHT bagi petani jagung


BAB II
INOVASI DAN TEKNOLOGI JAGUNG

Kebutuhan jagung terus meningkat, baik untuk pangan dan pakan maupun sebagai bahan baku industri. Pada saat produksi dalam negeri tidak memadai, impor terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Pada tahun 2005 Indonesia mengimpor jagung sebanyak 1,80 juta ton dan pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 2,20 juta ton kalau produksi nasional tidak segera dipacu. Luas areal panen jagung nasional dewasa ini baru sekitar 3,60 juta hektar dengan produktivitas 3,45 t/ha, sementara di tingkat penelitian telah mencapai 7,0-10,0 ton/ha, bergantung pada kondisi lahan, lingkungan setempat, dan teknologi yang diterapkan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa produksi jagung masih dapat ditingkatkan melalui inovasi teknologi.
Tanaman jagung yang merupakan sumber bahan makanan pokok kedua sebagian besar penduduk di Indonesia dan menempati urutan kedua setelah beras. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok dunia jagung menempati urutan ketiga setelah gandum dan beras.
Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah yang mempunyai lahan kering yang cukup luas dan potensian untuk pengembangan jagung yaitu lebih kurang 339.214 ha. Namun menurut data badan statistik (2005), luas panen jagung di Sulawesi Tenggara adalah 50.882 ha dengan hasil rata-rata mencapai 2.0 ton ha-1 pipilan kering. Hasil ini masih jauh lebih rendah dibanding dengan hasil rata-rata yang dihasilkan di wilayah jawa yang mencapai 3 sampai 4 ton ha-1.
Produksi nasional tanaman jagung tahun 2005 (angka sementara) mencapai 12.413.353 ton pipilan kering atau naik sebesar 1.188.110 ton (10,58 persen) dibandingkan dengan produksi tahun 2004. Peningkatan produksi terjadi karena kenaikan luas panen dan hasil per hektar. Secara nasional, luas panen tahun 2005 naik seluas 240.961 hektar (7,18 persen) dibandingkan luas panen tahun 2004. Luas panen di Jawa naik 143.283 hektar (7,70 persen) dan di Luar Jawa naik 97.678 hektar (6,52 persen). Secara nasional, hasil per hektar jagung tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar 1,06 ku/ha (3,17 persen) dibandingkan tahun 2004. Hasil per hektar di Jawa naik sebesar 0,89 ku/ha (2,45 persen) dan di luar Jawa naik 1,23 ku/ha (4,12 persen). Pada tahun 2006 (angka ramalan I), produksi jagung diperkirakan sebesar 12.352.831 ton pipilan kering atau turun sebesar 60.522 ton (0,49 persen) dibandingkan tahun 2005 (angka sementara). Penurunan produksi tersebut diperkirakan terjadi karena adanya penurunan luas panen di Jawa seluas 56.800 hektar (2,84 persen). Sedangkan hasil per hektar jagung tahun 2006 diperkirakan akan meningkat sebesar 0,03 ku/ha ( 0,09 persen) dibandingkan tahun 2005, BPSP (No. 15 / ix / februari 2006)
Dari hasil akumulasi secara nasional tersebut memberikan gambaran bahwa produksi jagung belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga pemerintah harus mengimpor jagung untuk memenuhi kebutuhan tersebut tiap tahunnya
Rendahnya produksi jagung nasional umumnya dan Sulawesi Tenggara khususnya salah satu penyebabnya adanya serangan hama antara lain ; Ulat garayak, Kutu daun, Belalang, Kepik, Jengkrik dan beberapa jenis kumbang yang belum teridentifikasi. Untuk mengendalikan hama ini petani masih mengandalkan pestisida meskipun pestisida menimbulkan dampak negatif, seperti terbunuhnya musuh alami serangga hama yang lebih peka terhadap pestisida dibanding dengan inangnya (Sudarmono,1988). Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Louse dan Robert (1990) bahwa keterantungan pada pengendalian kimia secara berulang-ulang mengakibatkan situasi krisis yang meliputi resurjensi hama, ledakan populasi hama kedua, matinya organisme non sasaran dan ancaman terhadap kesehatan manusia. Untuk menghindari hal tersebut, perlu diterapkan pengendalian berdasarkan konsep pengelolaan hama terpadu (PHT) yang lebih efektif dan ekonomis serta ramah lingkungan.
Oka (1980) mengemukakan bahwa tahap awal dari PHT yaitu melakukan identifikasi untuk menentukan jenis hama yang menyerang pertanaman, status hama dan fase perkembangan hama yang dapat menimbulkan kerusakan. Informasi ini dapat diperoleh dengan mengumpulkan data dari survey lapangan. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Kasumbogo untung (2006), bahwa keputusan tindakan pengendalian yang dilakukan berdasarkan data yang tidak tepat akan membuang banyak biaya pengendalian seperti biaya pengamatan, sewa peralatan dan dapat pula membahayakan keseimbangan lingkungan.
Dalam upaya penekanan terhadap OPT secara nasional, Pemerintah dalam hal ini lembaga terkait mengeluarkan kebijakan melalui Impres PP. No.6/1995, yang menyatakan bahwa PHT merupakan dasar kebijakan perlindungan tanaman. Program Sekolah Lapang pengendalian Hama terpadu yang dimulai pada tanaman padi sawah milik petani.
Melihat keberhasilan dari program SLPHT pada padi sawah maka penulis terispirasi melanjutkan konsep tersebut dengan mendesain suatu Panduan SL-PHT jagung ini dimaksudkan sebagai:
1) Acuan dalam pelaksanaan SL-PHT jagung dalam upaya peningkatan produksi nasional;
2) Pedoman dalam koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program peningkatan produksi jagung melalui SL-PHT antara di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota;
3) Acuan dalam penerapan komponen teknologi SL-PHT jagung oleh petani, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha taninya untuk mendukung upaya peningkatan produksi
4) Pedoman dalam peningkatan produktivitas, produksi, pendapatan, dan kesejahteraan petani jagung.

A. Botani tanaman jagung .

Tanaman termasuk dalam ordo poales, famili poaceae, genus Zea, spesies Zea mays L. (Effendi, 1985). System perakaran tanaman jagung terdiri dari akar lateral, akar seminal dan akar udarah. Akar seminal terdiri dari akar radikal atau akar primer ditambah dengan akar lateral yang muncul pada dasar buku pertama diatas pangkal batang yang pada umumnya berjumlah 3 -5 akar (Mohadjir, 1998). Akar udarah tumbuh dari bukukedua dan ketiga dari atas permukaan tanah. Akar ini berfungsi dalam asimilasi dan sebagai akar pendukung untuk memperkokoh batang terhadap kerebahan, dan apabilah masuk kedalam tanah dapat berfungsi sebagai penyerap hara.
B. Syarat Tumbuh Tanaman Jagung
Tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah, tetapi tanaman tumbuh lebih baik pada tanah gembur yang kaya akan unsure hara. Pada tanah berat seperti gromosol dapat ditanami jagung dengan baik asalkan pengelolaan tanahnya lebih sering selama pertumbuhannya sehingga airase tanah dapat berlangsung dengan baik (Soeprapto, 1988). Menurut Sutarto (1978) dalam Hisnawati (2008), bahwa kemasaman tanah (pH) erat kaitanya dengan ketersediaanunsur hara. pH yang dikehendaki antara 5,5 -7,5 dan pH optimum adalah 6,8 pada kondisi tanah dengan pH kurang dari 5,0 perlu diadakan pengapuran.
Menurut Effendy (1985), bahwa pemupukan adalah setiap usaha pemberian pupuk yang bertujuan menambah persedian unsure hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sedangkan pupuk adalah setiap bahan yang diberikan kedalam tanah atau disemprotkan pada tanaman. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Bukman dan Brady (1982), bahwa pemupukan yang ideal adalah apabila unsur hara yang ditambahkan dapat melengkapi unsur hara yang tersedia dalam tanah sehingga kebutuhan tanaman menjadi tepat.

C. Hama Tanaman Jagung
Hama tanaman jagung ( Zea mays L) yang paling banyak dirisaukan oleh petani adalah dari jenis serangga yang dapat merusak perakaran, batang, daun dan buah. Tidak kurang dari 23 jenis serangga hama yang merusak tanaman jagung, mulai dari akar, batang, daun hingga buah (Subiyakto, 1988).
Jenis-jenis serangga yang umum ditemukan merusak tanaman jagung adalah Ordo orthoptera ; Atractomorpa psittsinal, Melanoplus differentialis, Conocephalus fasualus, Ordo Coleoptera; Anomala sp, Lophobaris sp, Monolepta bifasciata; Ordo Homoptera: Rhopalosiphum sp, Nepohotettis sp, Ordo Lepidoptera: Ostrinia nubilalis, Helicoverpa armigera, lelia suffuse. Awaluddin (2004)
a. Ordo Orthoptera

Serangga pada ordo ini baik ninfa maupun dewasanya memakan daun dan dalam hal tertentu dapat menyebabkan gundulnya daun. Contoh yaitu Locusta migratoriamanilensis (Meyen). Belalang ini bila berimigrasi dalam jumlah yang cukup besar dapat menyebabkan kerusakan yang berarti. Belalang ini berukuran panjang kira-kira 35 mm dan lebar 28 mm. bentuk telur memanjang berukuran 3 mm x 1 mm yang ditutupi oleh semacam buih berwarna putih dan diletakkan pada lubang tanah. Lama penetasan 10-14 hari. Tipe alat mulut mengigit mengunyak (Subiyakto, 1980).
Ø Belalang (Locusta migratoria)

Bioekologi
Seekor betina mampu menghasilkan telur sekitar 270 butir. Telur berwarna keputih-putihan dan berbentuk buah pisang, tersusun rapi sekitar 10 cm di bawah permukaan tanah. Menurut BPOPT (2000), telur akan menetas setelah 17 hari, sementara menurut Farrow (1990), telur akan menetas antara 10-50 hari, bergantung temperatur. Nimfa mengalami lima kali ganti kulit (lima instar). Instar I berwarna hitam. Instar II berwarna kuning keputih-putihan. Instar III pada bagian lateral dan venteral berwarna kuning dengan dorsal hitam, disertai bakal sayap kecil mengarah ke bawah, Instar IV pada bagian lateral dan venteral berwarna jingga dengan dorsal hitam dan bakal sayap mengarah ke atas. Instar V berwarna jingga kemerah-merahan dengan dorsal hitam dan bakal sayap memanjang sampai dengan ruas abdomen ke empat dan berwarna jingga. Stadiaum nimfa berlangsung selama 38 hari. Imago betina yang berwarna coklat kekuningan siap meletakkan telur setelah 5-20 hari, tergantung temperatur. Seekor betina mampu meng- hasilkan 6-7 kantong telur dalam tanah dengan jumlah telur 40 butir perkantong. Imago betina hanya membutuhkan satu kali kawin untuk meletakkan telur-telurnya dalam kantong-kantong tersebut. Imago jantan yang berwarna kuning mengkilap berkembang lebih cepat dibandingkan dengan betina. Lama hidup dewasa adalah 11 hari. Siklus hidup rata-rata 76 hari, sehingga dalam setahun dapat meng-hasilkan 4-5 generasi di daerah tropis, terutama Asia Tenggara. Di daerah subtropis, serangga ini hanya menghasilkan satu generasi per tahun. Belalang kembara mengalami tiga fase pertumbuhan populasi yaitu fase soliter, fase transien, dan fase gregaria. Pada fase soliter, belalang hidup sendiri-sendiri dan tidak menimbulkan kerusakan bagi tanaman. Pada fase gregaria, belalang kembara hidup bergerombol dalam kelompok-kelompok besar, berpindah-pindah tempat dan merusak tanaman secara besar-besaran. Perubahan fase dari soliter ke gregaria dan dari gregaria kembali ke soliter dipengaruhi oleh iklim, melalui fase yang disebut transien. Perubahan fase soliter ke gregaria biasanya dimulai pada awal musim hujan setelah melewati musim kemarau yang cukup kering (di bawah normal). Pada saat itu, biasanya terjadi peningkatan populasi belalang soliter yang berdatangan dari berbagai lokasi ke suatu lokasi yang secara ekologis sesuai untuk berkembang. Lokasi tersebut biasanya berupa lahan yang terbuka atau banyak ditumbuhi rumput, tanah gembur berpasir, dan dekat sumber air (sungai, danau, rawa) sehingga kondisi tanah cukup lembab. Setelah berlangsung 3-4 generasi, apabila kondisi lingkungan memungkinkan, fase soliter akan berkembang menjadi fase gregaria, melalui fase transien. Lokasi ini dikenal sebagai lokasi pembiakan awal. Perubahan fase gregaria kembali ke fase soliter biasanya terjadi apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan bagi kehidupan belalang, terutama karena pengaruh curah hujan, tekanan musuh alami dan atau tindakan pengendalian oleh manusia. Perubahan ini juga melalui fase transien. Belalang kembara pada fase gregaria aktif terbang pada siang hari berkumpul dalam kelompok-kelompok besar. Pada senja hari, kelompok belalang hinggap pada suatu lokasi, biasanya untuk bertelur pada lahan-lahan kosong, berpasir, makan tanaman yang dihinggapi, dan kawin. Pada pagi hari, kelompok belalang terbang untuk berputar-putar atau pindah lokasi. Pertanaman yang dihinggapi pada malam hari biasanya dimakan sampai habis. Kelompok besar nimfa (belalang muda) biasanya berpindah tempat dengan berjalan secara berkelompok. Sepanjang perjalanannya juga memakan tanaman yang dilewati. tanaman yang paling disukai belalang kembara adalah kelompok Graminae yaitu padi, jagung, sorgum, tebu, alang-alang, gelagah, dan berbagai jenis rumput. Selain itu, belalang juga menyukai daun kelapa, bambu, kacang tanah, petsai, sawi, dan kubis daun. tanaman yang tidak disukai antara lain adalah kacang hijau, kedelai, kacang panjang, ubi kayu, tomat, ubi jalar, dan kapas.

Gejala Serangan
Gejala serangan belalang tidak spesifik, bergantung pada tipe tanaman yang diserang dan tingkat populasi. Daun biasanya bagian pertama yang diserang. Hampir keseluruhan daun habis termasuk tulang daun, jika serangannya parah. Spesies ini dapat pula memakan batang dan tongkol jagung jika populasinya sangat tinggi dengan sumber makanan terbatas

Pengendalian Hayati
Agens hayati M. anisopliae var. acridium, B. bassiana, Enthomophaga sp., dan Nosuma locustae di beberapa negara terbukti dapat digunakan pada saat populasi belum meningkat.

Pola Tanam
Di daerah pengembangan tanaman pangan yang menjadi ancaman hama belalang kembara perlu dipertimbangkan pola tanam dengan tanaman alternatif yang tidak atau kurang disukai belalang dengan sistem tumpang sari atau diversifikasi. Pada areal yang sudah terserang belalang dan musim tanam belum terlambat, diupayakan segera penanaman kembali dengan tanaman yang tidak disukai belalang seperti, kedelai, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, kacang panjang, tomat, atau tanaman yang kurang disukai belalang seperti kacang tanah, petsai, kubis, dan sawi. Mekanis Melakukan gerakan masal sesuai stadia populasi: Stadia telur. Untuk mengetahui lokasi telur maka dilakukan pemantauan lokasi dan waktu hinggap kelompok belalang dewasa secara intensif. Pada areal atau lokasi bekas serangan yang diketahui terdapat populasi telur, dilakukan pengumpulan kelompok telur melalui pengolahan tanah sedalam 10 cm, kelompok telur diambil dan dimusnahkan, kemudian lahan segera ditanami kembali dengan tanaman yang tidak disukai belalang.
Stadia nimfa. Setelah dua minggu sejak hinggapnya kelompok belalang kembara mulai dilakukan pemantauan terhadap kemungkinan adanya nimfa. Nimfa dikendalikan dengan cara memukul, menjaring, membakar atau menggunakan perangkap lainnya. Menghalau nimfa ke suatu tempat yang sudah disiapkan di tempat terbuka untuk kemudian dimatikan. Nimfa yang sudah ada di tempat terbuka apabila memungkinkan juga dapat dilakukan pembakaran namun harus hati-hati agar api tidak merembet ke tempat lain. Pengendalian nimfa berperan penting dalam menekan perkembangan belalang.

b. Ordo Lepidoptera
Serangga dewasa dari Ordo ini memiliki dua pasang sayap mirip membran penuh sisik, yang merupakan modifikasi dari rambut biasa. Serangga dewasa berupa kupu-kupu dan ngegat. Fase yang merusak yaitu fase larva yang memiliki tipe alat mulut menggigit mengunyak, menjilat mengisap. Perkembangan serangga ini yaitu metamorfosis sempurna (Rukmana, 1997)
Serangga hama dari ordo ini yang sering merusak tanaman jagung yaitu Pyrausta nubilalis (Hubner), Chilo infuscatellus (Snellen), Dichocrosis punctiferalis (Guenee), Spodoptera exempta (Walker), Spodoptera litura (Fabricius) (Subiyakto, 1988).
Ø Penggerek Batang jagung (Ostrinia furnacalis Guen ) Ordo : Lepidoptera, Noctuidae)

Bioekologi
Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari. Telur diletakkan berwarna putih, berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9, umur telur 3-4 hari, Larva, larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.

Gejala serangan

Larva O. furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak,

Pengendalian

a). Kultur teknis
- Waktu tanam yang tepat,
- Tumpangsari jagung dengan kedelai atan kacang tanah.
- Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman)
b). Pengendalian hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva


Ø Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae)

Bioekologi

Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif malam hari. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25 – 500 butir) tertutup bulu seperti beludru (Gambar). Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar Pupa. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari). Gejala Serangan larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau. Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, , tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora, foetida, Ageratum sp., Cleome sp., dan Trema sp.

Pengendalian

a). Kultur teknis
- Pembakaran tanaman
- Pengolahan tanah yang intensif.
b). Pengendalian fisik / mekanis
- Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya
- Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.
c). Pengendalian hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen Sl-NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematode Steinernema sp., predator Sycanus sp., Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.

Ø Penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera Hbn. Noctuidae: Lepidotera)

Imago betina H. armigera meletakkan telur pada rambut jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan . Larva spesies ini terdiri dari lima sampai tujuh instar .Khususnya pada jagung , masa perkembangan larva pada suhu 24 sampai 27,2 C adalah 12,8 sampai 21,3 hari. Larva serangga ini memiliki sifat kanibalisme . Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah. Pupa, pada umumnya pupa terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman Pada kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35 C sampai 30 hari pada suhu 15 C. Gejala Serangan Imago betina akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.

Pengendalian Hayati

Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda. Cendwan, Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva. Bakteri, Bacillus thuringensis dan Virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV). Menginfeksi larva Kultur Teknis Pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya.

c. Ordo Hemiptera
Serangga pada ordo ini memiliki cirri pada sayap depan yang mengalami modifikasi sebagai Hemiltron yaitu setengah bagian di daerah pangkal menebal, sedangkan setengahnya berstruktur sebagai selaput. Sayap belakang berbentuk selaput tipis. Tipe alat mulut yaitu menusuk mengisap danmerupakan serangga yang paurometabola ( telur-ninfa-imago) (Rukmana, 1977). Contoh serangga hama dari Ordo ini yaitu Nezara viridula (kepik hijau). Hama ini bersifat polifagus dan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan biasa sebagai fektor (subiyakto,1987)
d. Ordo Coleoptera
serangga pada Ordo ini mempunyai sayap depan yang mengalami modifikasi yaitu mengeras dan tebal seperti seludang yaitu berfngsi untuk menutupi sayap belakang dan tubuhnya, tetapi tidak berfungsi pada saat terbang. tipe alat mulut serangga ini baik imago maupun larvanya yaitu menggigit mengunyak dan perkembanganya bersifat holometabola. Serangga hama yang termasuk dalam ordo ini adalah Monolepta bifasciata. Kumbang tersebut dapat menyebabkan kurang sempurnahnya pertumbuhan biji jagung. Imago betina dari serangga tersebut meletakan telur di dalam tanah dibagian perakaran tanaman jagung. (Subiyakto, 1988)
Ø Sitophilus zeamais (Motsch) , Coleoptera, Curculionidae

Bioekologi

Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan maize weevil atau kumbang bubuk, dan merupakan serangga yang bersifat polifag, selain menyerang jagung juga beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa dan jambu mente, S. zeamais lebih dominan terdapat pada jagung dan beras. S. zeamais merusak biji jagung dalam penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih berada di pertanaman. Telur diletakkan satu per satu pada lubang gerekan didalam biji, Keperidian imago sekitar 300-400 butir telur; stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 25 C. Larva kemudian menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu 25 C dan kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari. Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5 bulan jika tersedia makanan dan sekitar 36 hari jika tanpa makan. Siklus hidup sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 29 C, kadar air biji 14% dan kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.

Cara pengendalian

Pengelolaan Tanaman
Serangan selama tanaman di lapangan dapat terjadi jika tongkol terbuka, sehingga.. tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk yang rendah menyebabkan tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen yang tepat pada saat jagung mencapai masak fisiologis, Panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan.

Varietas tanaman
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk. Penggunaan varietas yang mempunyai penutupan kelobot yang baik

Kebersihan dan pengelolaan gudang
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Taktik yang digunakan termasuk membersihkan semua struktur gudang dan membakar semua biji yang terkontaminasi dan membuang dari area gudang. Selain itu karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji harus dibuang. Semua struktur gudang harus diperbaiki, termasuk dinding yang retak-retak dimana serangga dapat bersembunyi, dan memberi perlakuan insektisida baik pada dinding maupun plafon gudang.

Persiapan biji Jagung yang disimpan
Kadar air biji ≤ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.

Pengendalian secara fisik dan mekanis

Pada suhu lebih rendah dari 5 C dan di atas 35 C perkembangan serangga akan berhenti. Penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi dapat dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh).

Bahan Tanaman
Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.

Pengendalian hayati
Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) mampu menekan kumbang bubuk.

e. Ordo Homoptera
Serangga dari Ordo ini ada yang bersayap dan ada yang tidak, tetapi bila populasi meningkat akan membentuk sayap untuk berimigrasi. Sayap depan memiliki struktur yang sama dan berbentuk seperti selaput (membran). Serangga ini mengalami metamorfosis tidak sempurna. Contoh dari serangga hama ini yaitu kutu akar Tetrneura nuribdominalis Sasaki. Serangga ini apabila dalam populasi tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil. Baik ninfa maupun dewasanya mengisp cairan akar tanaman. Jenis kutu lain Aphids sp yang mengisap cairan tanaman pada bagian pucuk atau daun-daun muda (Kalshoven,1981)

Ø Kutu daun (Aphis maidis)

Bioekologi

Kutu daun membentuk koloni yang besar pada daun. Betina berproduksi secara partenogenesis (tanpa kawin). Umumnya, stadia nimfa terdiri atas empat instar (Kring 1985). Stadium nimfa terjadi selama 16 hari pada suhu 15 C, sembilan hari pada suhu 20 C, dan lima hari pada suhu 30 C. Seekor betina (Gambar 15) yang tidak bersayap mampu melahirkan rata-rata 68,2 ekor nimfa, sementara betina bersayap melahirkan 49 nimfa (Adam and Drew 1964). Lama hidup imago adalah 4-12 hari (Ganguli and Raychaudhuri 1980). Ketiadaan fase telur di luar tubuh A. maidis betina karena proses inkubasi dan penetasan terjadi dalam alat reproduksi betina dan diduga telur tidak mampu bertahan pada semua kondisi lingkungan. Serangga ini lebih menyukai suhu yang hangat. Mau dan Kessing (1992) melaporkan bahwa imago lebih aktif di lapangan pada suhu 17 C dan 27 C.

Gejala Serangan

A. maidis dalam kelompok yang besar mengisap cairan daun dan batang, akibatnya warna dan bentuk daun tidak normal yang pada akhirnya tanamn mengering Kutu daun ini menghasilkan honeydew yang dikeluarkan melalui sersinya, sehingga membentuk embun jelaga berwarna hitam yang menutupi daun sehingga menghalangi proses fotosintesis

Pengendalian Hayati

Aphis maidis dan Lysiphlebus mirzai (Famili: Braconidae) diketahui berpotensi sebagai parasitoid hama ini (Mau and Kessing 1992, Tripathi and Singh 1995). Coccinella sp. dan Micraspis sp. juga dapat dimanfaatkan sebagai predator. Trujillo and Altieri (1990) menyarankan penanaman jagung secara polikultur karena akan meningkatkan predasi dari predator kutu daun dibandingkan dengan penanaman secara monokultur.

f. Ordo Diptera

Ø Lalat bibit (Atherigona sp, Ordo: Diptera)

Imago, Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mmsampai 4,5 mm, Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun. Larva terdiri dari tiga instar yang warna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati. Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat dengan ukuran panjang 4,1 mm.

Pengendalian Hayati

Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp. dan parasit larva adalah Opius sp. dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.

Kultur Teknis dan Pola Tanam
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan pada musim hujan maka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran Tanaman dengan Tanaman bukan jagung dan padi , tanam serempak serangan dapat dihindari.

Ø Hama Vertebrata TIKUS (Rattus argentiventer)

Bioekologi

Tanaman jagung yang diserang tikus biasanya ditanam pada lahan sawah setelah padi. Tikus tersebut adalah dari spesies Rattus argentiventer. Tikus memiliki kemampuan indera yang sangat menunjang setiap aktivitas kehidupannya. Di antara kelima organ inderanya, hanya penglihatan yang kurang baik, namun kekurangan ini ditutupi oleh indera lainnya yang berfungsi dengan baik. Tikus mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap cahaya. Meski indera penglihatannya kurang berfungsi dengan baik, tikus mampu mengenali benda di depannya pada jarak 10 m (Rochman 1992). Indera penciuman tikus berfungsi dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas tikus menggerak-gerakkan kepala dan mengendus pada saat mencium bau pakan, tikus lain, dan musuhnya. Indera pendengarannya juga berfungsi dengan sempurna karena mampu mendengar suara pada frekwensi audibel (40 kHz), dan frekwensi ultrasonik (100 kHz). Dengan indera perasa, tikus mampu mendeteksi zat yang pahit, beracun, atau tidak enak. Bulu-bulu pendek dan panjang yang tumbuh di antara rambut pada bagian tepi tubuhnya dimanfaatkan sebagai indera peraba untuk membantu pergerakan di tengah kegelapan (Rochman 1992). Selain indera tersebut, tikus juga mempunyai beberapa kemampuan lain yaitu kemampuan menggali, memanjat, meloncat, mengerat, berenang, dan menyelam. Tikus mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor, antara lain: matang seksual cepat (2-3 bulan), masa bunting singkat (21-23 hari), timbulnya birahi cepat (24-48 jam setelah melahirkan), melahirkan sepanjang tahun tanpa mengenal musim, dan melahirkan keturunan dalam jumlah banyak (3-12 ekor dengan rata-rata enam ekor per kelahiran). Tikus termasuk pemakan menyukai hampir semua makanan yang dimakan manusia. Dalam kondisi cukup makanan, tikus beraktivitas sejauh rata-rata 30 m dan tidak pernah lebih dari 200 m. Jika kondisi tidak menguntungkan, jarak tempuh tikus dapat mencapai 700 m atau lebih. Populasi tikus dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap dinamika populasi tikus adalah air dan sarang, sementara faktor biotik adalah tanaman dan hewan kecil sebagai sumber pakan, patogen, predator, tikus lain sebagai pesaing, dan manusia.

Gejala Serangan

Tikus biasanya menyerang tanaman jagung pada fase generatif atau fase pengisian tongkol. Tongkol yang sedang matang susu dimakan oleh tikus sehingga tongkol menjadi rusak. Umumnya tikus makan biji pada tongkol mulai dari ujung tongkol sampai pertengahan tongkol.

Pengendalian Hayati

Tikus dapat dikendalikan dengan memanfaatkan Predator berupa kucing, anjing, ular, burung elang, dan burung hantu. Penggunaan patogen sebagai agen pengendali tidak dianjurkan karena berdampak negatif terhadap manusia. Sanitasi Pembersihan dan penyempitan pematang atau tanggul dapat dilakukan untuk membatasi tikus membuat sarang. Untuk itu pematang atau tanggul dibuat dengan lebar kurang dari 40 cm.

Pengendalian Mekanik

Pemagaran pertanaman dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, atau gropyokan merupakan tindakan pengendalian mekanik yang dapatdilaksanakan untuk mengurangi populasi tikus. Penggunaan bambu berukuran 2 m yang pada salah satu bukunya di lubangi, kemudian diletakkan di pinggir pematang saat terbentuknya tongkol sampai panen, dapat menipu tikus yang diduga sebagai lubang alamiah. Tikus yang terperangkap pada bambu tersebut dapat dengan mudah ditangkap dan dibunuh (Tandiabang et al. 1995). Pengusiran tikus dapat pula dilakukan dengan cara menghasilkan bunyi-bunyian yang sangat ramai secara bersamaan, misalnya dengan memukul alat-alat dari logam. Tetapi tindakan ini bersifat sementara karena setelah itu tikus akan kembali lagi ke pertanaman Pemasangan perangkap hidup, perangkap mati, perangkap berperekat, dan perangkap jatuhan juga dapat dimanfaatkan untuk menekan populasi tikus.

D. PENGGUNAAN PESTISIDA SINTETIS KIMIA

Pengertian masyarakat bahwa pestisida merupakan “Obat hama atau serangga” adalah salah dan perlu diingat bahwa pestisida adalah racung yang berbahaya, tidak hanya terhadap serangga atau individu sasaran lainnya, tetapi juga terhadap manusia dan lingkungan. Untuk itu sebelum menggunakan pestisida, hendaknya dipelajari terlebih dahulu kemungkinan penggunaan metode-metode pengendalian lainnya.
Sebelum menggunakan pestisida diperlukan pengetahuan yang cukup tentang sifat, mekanisme/cara kerja, penggunaan yang tepat (dosis waktu dan cara), efisiensi dan keamanan pengguna pestisida terpilih terhadap organisme pengganggu serta efisiensi dan keamanannya terhadap organisme bukan sasaran
Pengalaman Indonesia menggunakan pestisida dalam program intesifikasi pangan dapat dikatakan suatu “mixed blessing” ada baik dan ada buruknya, artinya bahwa pestisida tersebut dapat membantu penekanan populasi hama, bila formulasi yang digunakan, waktu dan metode aplikasinya tepat. Namun sebaliknya penggunaan pestisida dapat menimbulkan akibat-akibat samping yang tidak dinginkan (Oka, 1995). Menurut Wasiati et al.,(2003) penggunaan insektisida berspektrum lebar mengakibatkan timbulnya resistensi hama, resurjensi dan ledakan hama sekunder, serta tercemarnya lingkungan hidup.
Peningkatan pemekaian insektisida ternyata tidak memberikan jaminan stabilitasi produksi dan keamanan pangan, Vander fliert (1993). Menurut Abadi (2004) dikeluarkanya kebijakan pengendalian dalam mengendalikan wereng coklat padi, Undang-Undang no. 12/1992 tentang sistim budidaya tanaman dan PP No.6/1995 tentang perlindungan tanaman telah menyatakan bahwa PHT merupakan dasar kebijakan perlindungan tanaman.
Sejak perintisan PHT dan kemudian dikembangkan melalui SLPHT tahun 1989, Indonesia telah berpengalaman dalam menerapkan SLPHT pada banyak jenis tanaman dan ekosistem. Sudah lebih dari satu juta petani di daerah-daerah penghasil padi telah mengikuti SLPHT. Puluhan ribu petani petani sayur daratan rendah (cabe, bawang merah, dll.)telah mengikuti SLPHT. Sejak tahun 1997, SLPHT telah mulai dilaksanakan untuk petani perkebunan (kopi, teh, kakao, jambu mete, lada, dan kapas) di 12 Propinsi yaitu ; jawa timur, Jawa tengah, Sumatra Selatan, Lampung, Sumatra Utara, Bali, NTB, Kalimantan timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Target yang ingin dicapai oleh PHT perkebunan yakni sampai akhir 2004 lebih dari 125.000 petani perkebunan telah mengikuti SLPHT (Untung, 2007).


BAB III
PEMBAHASAN UMUM

SL-PHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu) adalah pendekatan dalam pengelolaan lahan, air, tanaman, organisme pengganggu tanaman (OPT), dan iklim secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan kelestarian lingkungan, sebagaimana . PHT jagung dirancang berdasarkan pengalaman implementasi berbagai sistem intensifikasi yang pernah dikembangkan di Indonesia, melalui pendekatan SL-PHT padi sawah. Tujuan penerapan PHT jagung adalah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani serta melestarikan lingkungan produksi melalui pengelolaan lahan, air, tanaman, OPT, dan iklim secara terpadu. Kasumbogo Untung (2006;299) Mengemukakan Prinsip PHT mencakup empat unsur, yaitu :
1) Budidaya tanaman sehat
2) Pelestarian dan pemanfaatan musuh alami
3) Pengamatan lahan mingguan
4) Petani menjadi ahli PHT di lahannya
Berdasarkan dasar pemikiran di atas maka penulis mensenergiskan langkah yang dimaksud melalui penerapan Prinsip PHT jagung mencakup empat unsur yaitu integrasi, interaksi, dinamis, dan partisipatif.
Integrasi
Dalam implementasinya di lapangan, PHT jagung mengintegrasikan sumber daya lahan, air, tanaman, OPT, dan iklim untuk mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman sehingga dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi petani melalui pendekatan Ekologi
Interaksi
PHT jagung, berlandaskan pada hubungan sinergis atau interaksi antara dua atau lebih komponen teknologi produksi Pengolahan Hama terpadu.
Dinamis
PHT jagung, bersifat dinamis karena selalu mengikuti perkembangan teknologi dan penerapannya disesuaikan dengan keinginan dan pilihan petani. Oleh karena itu, PHT jagung selalu bercirikan spesifik lokasi. Teknologi yang dikembangkan melalui pendekatan PHT senantiasa mempertimbangkan lingkungan fisik, biofisik, iklim, dan kondisi sosial-ekonomi petani setempat.
Partisipatif
PHT jagung, juga bersifat partisipatif, yang membuka ruang bagi petani untuk memilih, mempraktekkan, dan bahkan memberikan saran kepada ademisi terkait, penyuluh dan peneliti untuk menyempurnakan PHT jagung, serta menyampaikan pengetahuan yang dimiliki kepada petani yang lain.

Contoh Kasus Penerapan PHT JAGUNG
PHT JAGUNG jagung untuk pertama kalinya diterapkan pada tahun 2005 di beberapa lokasi dalam program peningkatan produktivitas lahan, di antaranya pada lahan sawah tadah hujan di Desa Mandalle, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dari PRA teridentifikasi masalah yang berkaitan dengan upaya peningkatan produktivitas jagung pada lahan sawah tadah hujan, kemudian diintroduksikan komponen teknologi untuk memecahkan masalah tersebut yang PRA Identifikasi masalah Pemilihan komponen teknologi PHT JAGUNG (Rakitan teknologi spesifik lokasi)

Belajar lewat pengalaman dan penemuan sendiri
Sesuai dengan motto petani SL-PHT “mendengar, saya lupa; melihat, saya ingat; melakukan, saya paham; menemukan sendiri, saya kuasai”, maka setiap kegiatan yang dilakukan sendiri akan memberikan pengalaman yang berharga. Oleh karena itu, petani dituntut untuk mampu menganalisis kegiatan yang telah dilakukan, kemudian menyimpulkan dan menindaklanjutinya. Kesimpulan yang telah dibuat merupakan dasar dalam melakukan perubahan dan atau pengembangan teknologi.


Peningkatan Produksi Nasional
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, mewujudkan swasembada, dan bahkan mengisi pasar internasional, oleh karena itu menurut penulis pemerintah harus proaktif meluncurkan berbagai program peningkatan produksi jagung. Dalam hal ini inovasi teknologi jagung dijadikan andalan dalam meningkatkan produktivitas. Inovasi teknologi tersebut diimplementasikan dengan pendekatan PHT yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani jagung. SL-PHT jagung diharapkan menjadi andalan dalam mempercepat pengembangan jagung secara nasional.

PENUTUP
A. Kesimpulan

Peningkatan produktivitas jagung melalui pendekatan SL-PHT padi merupakan salah satu strategi yang diharapkan mampumemberikan kontribusi yang lebih besar terhadap produksi jagung nasional. Pendekatan ini akan berhasil meningkatkan produksi dan pendapatan petani apabila didukung oleh semua pihak, termasuk pemangku kepentingan baik di hulu, onfarm, mapun hilir, dan pelaksanaannya terkoordinasi secara sinkron dan sinergis di setiap tingkat, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga ke tingkat desa. Dengan pendekatan tersebut SL-PHT jagung diharapkan tersosialisasi secara luas dalam upaya percepatan pengembangan PHT Jagung secara nasional. Untuk menambah pengalaman dan wawasan, para pemandu SL-PHT jagung disarankan membaca publikasi yang terkait dengan PHT jagung, seperti petunjuk teknis PHT jagung jagung,
B. Saran
Tabel 5. Perubahan tingkat pengetahuan petani SLPHT
9 tentang PHT dan SLPHT
di Dusun Pare III Tahun 2006

No.
Jenis pengetahuan
Sebelum SLPHT
Setelah SLPHT
1.
Maksud dan tujuan SLPHT
1,4
3,0
2.
Informasi tentang PHT
1,0
3,8
3.
Perbedaan PHT dan bukan PHT
1,0
3,7
4.
Manfaat SLPHT
2,5
3,5
Rata – rata
1,5
3,5
Keterangan : 1 = kurang, 2 = sedang, 3 = baik dan 4 = baik sekali
Tabel 5 menunjukkan telah terjadi peningkatan pengetahuan petani tentang PHT dan SLPHT dari kurang menjadi baik setelah mereka mengikuti SLPHT, mereka mengetahui maksud dan tujuan PHT adalah untuk mengurangi penggunaan pestisida dan menerapkan prinsip-prinsip PHT. Petani mengetahui perbedaan antara PHT dan pengendalian hama konvensional yang lebih mengutamakan penggunaan pestisida. Petani mengetahui manfaat SLPHT untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang PHT dan budidaya tanaman sehat untuk meningkatkan produksi padi dan tingkat kesejahteraan petani. Untung (2001) menyatakan bahwa pendekatan SLPHT merupakan paradigma PHT baru yang berorientasi pada pemberdayaan petani dalam menerapkan dan mengembangkan prinsip-prinsip PHT.
2. Pengetahuan tentang hama dan musuh alami. Tabel 6 menunjukkan bahwa sebelum SLPHT pengetahuan petani tentang agroekosistem, hama dan penyakit, musuh alami rata-rata masih kurang.
Sebelum mengikuti SLPHT petani belum mengetahui tentang agroekosistem, belum dapat membedakan antara hama dan penyakit padi serta belum mengenal keberadaan dan fungsi musuh alami. Tabel 6 menunjukkan bahwa setelah
Tabel 6. Perubahan tingkat pengetahuan petani SLPHT tentang hama dan musuh
alami di Dusun Pare III Tahun 2006

No.
Jenis pengetahuan
Sebelum SLPHT
Setelah SLPHT
1.
Agroekosistem
1,0
3,0
2.
Perbedaan hama dan penyakit
1,1
4,0
3.
Jenis hama
1,3
4,0
4.
Musuh alami
1,0
3,8
Rata - rata
1,1
3,7
Keterangan : 1 = kurang, 2 = sedang, 3 = baik dan 4 = baik sekali

mengikuti SLPHT petani lebih memahami tentang agroekosistem sebagai suatu kesatuan interaksi antara komponen biotik termasuk hama, penyakit dan musuh alami, serta komponen abiotik. Karena peranan musuh alami sangat menentukan dalam pengendalian hama secara alami, maka petani harus dapat melestarikan dan memanfaatkan musuh alami melalui penggunaan pestisida secara minimal. Untung (1993) menyatakan PHT menekankan pada kerjanya musuh alami yang secara alami organisme tersebut mampu menekan populasi hama dalam aras keseimbangan populasi yang aman bagi kita.
3. Pengetahuan tentang pestisida. Tabel 7 menunjukkan bahwa sebelum SLPHT pengetahuan petani tentang pestisida termasuk kategori sedang dan meningkat mendekati kategori baik sekali setelah mereka mengikuti SLPHT.
Sebelum mengikuti SLPHT petani sudah bisa menggunakan pestisida tetapi mereka kurang mengetahui tentang prinsip penggunaan pestisida, jenis formulasi pestisida, cara aplikasi pestisida yang benar serta bahaya pestisida bagi kesehatan dan lingkungan. Setelah petani belajar bersama di SLPHT tentang prinsip-prinsip penggunaan pestisida dalam kerangka PHT, petani menjadi lebih hati-hati dalam
Tabel 7. Perubahan tingkat pengetahuan petani SLPHT tentang pestisida di
Dusun Pare III Tahun 2006

No.
Jenis pengetahuan
Sebelum SLPHT
Setelah SLPHT
1.
Prinsip penggunaan pestisida
2,1
3,6
2.
Waktu dan frekwensi penggunaan pestisida
2,1
3,8
3.
Jenis pestisida
2,3
3,9
4.
Alasan meggunakan pestisida
2,5
4,0
5.
Bahaya menggunakan pestisida
2,2
3,8
Rata – rata
2,2
3,8
Keterangan : 1 = kurang, 2 = sedang, 3 = baik dan 4 = baik sekali
menggunakan pestisida, mempertimbangkan nilai AE, populasi hama dan musuh alami, serta meminimalkan bahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Untung (2006) menyatakan bahwa Ambang Ekonomi (AE) sebagai pedoman bagi petani dalam menerapkan pengendalian hama secara kimiawi.
4. Pengetahuan tentang pengamatan. Tabel 8 menunjukkan bahwa sebelum SLPHT rata-rata pengetahuan petani tentang pengamatan ekosistem termasuk dalam kategori mendekati baik. Tingkat pengetahuan tentang pengamatan meningkat menjadi baik sekali setelah mereka mengikuti SLPHT.
Sebelum petani mengikuti SLPHT mereka sudah sering menerima informasi tentang pentingnya pengamatan terutama dalam kegiatan pengendalian hama tikus. Informasi berasal dari PPL dan para pejabat desa. Oleh karena itu tingkat pengetahuan petani sudah pada kategori baik. Setelah mengikuti SLPHT petani lebih mengetahui arti penting pengamatan, cara melakukan pengamatan dan komponen agroekosistem yang diamati terutama keadaan tanaman, populasi hama, musuh alami dan cuaca. Pengamatan perlu dilakukan setiap dua hari sekali. Sebelum SLPHT

Tabel 8. Perubahan tingkat pengetahuan petani SLPHT tentang pengamatan di
Dusun Pare III Tahun 2006

No.
Jenis pengetahuan
Sebelum SLPHT
Setelah SLPHT
1.
Pernakah melakukan pengamatan
2,7
3,8
2.
Pentingnya pengamatan dilakukan
2,3
3,9
3.
Apa yang perlu diamati
2,8
4,0
4.
Frekwensi pengamatan
3,1
4,0
Rata – rata
2,7
3,9
Keterangan : 1 = kurang, 2 = sedang, 3 = baik dan 4 = baik sekali
mereka melakukan pengamatan sekali seminggu. Untung (1993) menyatakan dinamika ekosistem pada umumnya dan dinamika populasi hama dan musuh alaminya harus diikuti secara terus menerus melalui kegiatan pengamatan.
5. Pengetahuan tentang budidaya tanaman sehat. Tabel 9 menunjukkan bahwa sebelum SLPHT pengetahuan petani tentang budidaya tanaman sehat termasuk varietas yang ditanam, pemupukan dan penggunaan pupuk hayati termasuk dalam kategori sedang dan pengetahuan tentang asal bibit dan label termasuk kategori baik.
Sebelum SLPHT petani pernah memperoleh informasi umum tentang
Tabel 9. Perubahan tingkat pengetahuan petani SLPHT tentang budidaya tanaman
sehat di Dusun Pare III Tahun 2006

No.
Jenis pengetahuan
Sebelum SLPHT
Setelah SLPHT
1.
Varietas yang sering ditanam
2,8
4,0
2.
Asal bibit, berlabel atau tidak
3,1
4,0
3.
Masalah pemupukan
2,1
4,0
4.
Penggunaan pupuk hayati
2,2
3,6
Rata – rata
2,5
3,9
Keterangan : 1 = kurang, 2 = sedang, 3 = baik dan 4 = baik sekali
budidaya tanaman sehat terutama dalam penggunaan bibit berlabel. Setelah mengikuti SLPHT petani lebih mengetahui pentingnya budidaya tanaman sehat sebagai prinsip PHT yang pertama. Teknik budidaya tanaman sehat yang penting adalan penggunaan varietas padi yang memiliki sifat tahan atau toleran terhadap hama dan penyakit, berlabel dan mempunyai produksi yang tinggi. Pemupukan lebih diutamakan penggunaan pupuk hayati agar tanah kesuburannya meningkat, atifitas biota tanah meningkat dan lingkungan tanah tidak tercemar oleh bahan-bahan kimia. Oka (2005) menyatakan bahwa budidaya tanaman sehat adalah tanaman yang terlihat segar, tumbuh normal menurut kriteria pertumbuhan yang telah diketahui.
C. Evaluasi Dampak SLPHT
1. Produksi padi, pendapatan dan penghasilan petani. Tabel 10 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produksi, pendapatan dan penghasilan setiap peserta. Karena terjadi penurunan biaya produksi penghasilan setiap petani meningkat dari sebelum mengikuti SLPHT Rp.758.590 menjadi Rp.941.880 setelah mengikuti SLPHT. Tabel 10 tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa dengan menerapkan PHT petani dapat meningkatkan pendapatan dan penghasilannya serta menurunkan biaya produksi. Untung (2001) menyatakan bahwa salah satu tujuan dari penerapan PHT oleh alumni SLPHT agar kuantitas dan kualitas hasil tinggi, meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani. Selanjutnya Berg et al. (2004) menyatakan bahwa petani di Sri Lanka setelah mengikuti SLPHT padi satu musim tanam produksi padi dan penghasilan petani meningkat.
2. Intensitas serangan tikus. Tabel 11 menunjukkan bahwa sebelum SLPHT intensitas serangan hama tikus mencapai 75 % dan setelah SLPHT menurun menjadi 15%. Pengendalian hama tikus dilakukan dengan sanitasi secara bersama-sama di petak PHT maupun di sawah masing-masing.
Tabel 10. Produksi padi , harga, pendapatan, biaya produksi dan penghasilan riil 10 orang petani sampel
sebelum dan setelah SLPHT di Dusun Pare III Tahun 2006


No.Responden
Produksi (Kg./luas sawah)
Harga (Rp./Kg.)
Pendapatan (Rp.)
Biaya Produksi (Rp.)
Penghasilan (Rp.)
Sebelum
SLPHT
Setelah
SLPHT
Sebelum
SLPHT
Setelah
SLPHT
Sebelum
SLPHT
Setelah
SL-PHT
Sebelum
SLPHT
Setelah
SLPHT
Sebelum
SLPHT
Setelah
SLPHT
Perubahan
1
360
389
2.300
2.450
828.000
953.050
120.000
117.600
708.000
835.450
+
2
350
388
2.350
2.500
822.500
970.000
23.800
20.000
798.700
950.000
+
3
360
389
2.200
2.450
792.000
953.050
205.600
20.000
586.400
933.050
+
4
360
390
2.350
2.450
846.000
955.500
29.600
35.000
816.400
920.500
+
5
350
390
2.200
2.600
770.000
1.014.000
32.400
20.000
737.600
994.000
+
6
350
389
2.400
2.600
840.000
1.011.400
29.600
35.000
810.400
976.400
+
7
350
390
2.200
2.500
770.000
975.000
29.600
20.000
740.400
955.000
+
8
350
389
2.400
2.600
840.000
1.011.400
36.800
20.000
803.200
991.400
+
9
360
390
2.200
2.450
792.000
955.000
35.600
35.000
756.400
920.500
+
10
360
389
2.400
2.500
864.000
972.500
35.600
30.000
828.400
942.500
+
Rata-rata
355±5.27
389±0.67
2.300±0.09
2.510±0.07
816.450±33.2
977.090±25.6
57.860±58.9
35.260±29.8
758.590±72.6
941.880±45.8
+
8Tabel 11. Intensitas serangan hama tikus sebelum dan setelah SLPHT di Dusun
Pare III Tahun 2006

No. Responden
Serangan Tikus (%)
Perubahan
Sebelum SLPHT
Setelah SLPHT
01
75
12
-
02
76
15
-
03
75
16
-
04
76
15
-
05
75
14
-
06
74
15
-
07
75
14
-
08
74
16
-
09
76
14
-
10
74
15
-
Rata-rata
75 ± 0.82
15 ± 0.81
-

3. Penggunaan pestisida. Menurut petani responden penggunaan pestisida kimia menurun dari dua kali dalam semusim sebelum SLPHT menjadi tidak menggunakan pestisida kimia setelah mengikuti SLPHT. Sedangkan penggunaan pestisida nabati dan agens hayati belum dilakukan oleh petani sebelum dan setelah SLPHT. Untung (2001) menyatakan tujuan penerapan PHT antara lain menurunkan populasi hama dan kerusakan tanaman, melestarikan dan memanfaatkan fungsi lingkungan hidup.







16IV. KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini :
1. Dalam Upaya membantu Pemerintah dan masyarakat guna meningkatkan produksi jagung untuk mewujudkan swasembada pada tahun 2010, sebagaimana dicanangkan Pemerintah. Pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa upaya peningkatan produksi jagung dihadapkan kepada berbagai kendala, antara lain serangan hama. Dengan tersedianya informasi tentang bioekologi, gejala serangan, dan teknologi pengendaliannya, serangan hama pada tanaman jagung diharapkan dapat dikendalikan dengan baik, sehingga swasembada jagung dapat diwujudkan.
2. PHT (Pengendalian Hama Terpadu) pada tanaman Jagung yang dilaksanakan melalui pelatihan SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama terpadu) merupakan dasar/acuan dalam meningkatkan produksi jagung untuk masa kini dan masa akan datang guna mewujudkan swasembada jagung nasional.

B. SARAN
Untuk mencapai sasaran dimaksud di atas maka pemerintah harus proaktip dalam membantu mensukseskan pertanian organik melalui kerjasama lembaga, Departemen pertanian, Akademisi, Peneliti dan Masyarakat Petani Untuk tetap menindak lanjuti Program PHT untuk berbagai komoditas pertanian.



16
DAFTAR PUSTAKA

Awaluddin, 2004. Identifikasi Serangga Hama Pada Tanaman Jagung (Zea mays L) Kota Madya Kendari. Universitas Haluoleo. Sulawesi Tenggara.

Bio Pengendalian OPT. 2000. Belalang Kembara (Locusa migratoria). www.deptan.co.id.

Borror, D.J; E.A. Triplehorn. Dan N.F. Jhonsen., 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

BPS, 2005. Badan Pusataka Statistik. Sulawesi Tenggara.

BPS, 2006. Badan Pusat Statistik (No. 15 / ix / februari). Jakarta .
Berg, H. van den., H. Senerath dan L. Amarasinghe. 2004. Farmer Field School in Sri Lanka. Appropriate Technology. Pest Control, Pilot Projects, Performance Evaluation and Intercative Learning.
http: // proquest.Umi Com ./ pqdweb? Did = 638894071 & Fmt=4 clientld =42788&RQT=309&Vname=PQD. Article. March 2004. 3 p.

Effendi.S, 1985. Bercocok Tanam Jagung. Yasaguna. Jakarta.

Farrow R.A. 1990. Flight and migration in Acridoids. In: Chapman and Joern. (Eds.) Biology of Grasshoppers. Chichester, UK: John Wiley & Sons, 227-314.

Ganguli, R.N. and D.N. Raychaudhuri. 1980. Studies on Rhopalosiphum maidis Fitch (Aphididae: Homoptera)-a formidable pest of Zea mays (maize), in Tripura. Science and Culture, 46(7):259-261.

Kalshoven, LEG. 1981. The Pests OF Crops In Indonesia. Ichtiar Baru-Van Houve. Kanisus Yogyakarta.

Louse, F.M dan Robert, V.D.B., 1990. Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Kanisus. Yogyakarta.

Mau, R.F.L. and J.L.M. Kessing. 1992. Rhopalosiphum maidis (Fitch). Honolulu, Hawaii: Hawaii Entomology Extension Service. http://www.extento. hawaii.edu/.
Mohadjir, F, 1998. Karakteristik Tanaman Jagung. Balai penelitian Tanaman Pangan. Bogor

Nonci, N, J. Tandiabang, D. Baco, dan A. Muis. 1998. Inventarisasi musuh alami penggerek batang (O. furnacalis) pada sentra produksi Jagung di Sulawesi Selatan. Laporan Tahunan Penelitian Hama dan Penyakit, Balitjas, Maros 1999.

Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Inplementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press.

.............. 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Inplementasinya di Indonesia. Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu. Departemen Pertanian. Gadjah Mada University Press. 3rd Edition. 245 hal.

Rochman. 1992. Biologi dan ekologi tikus, sebagai dasar pengendalian tikus, Prosiding Seminar Pengendalian Hama Tikus Terpadu. p. 17-30. Bogor.

Rukmana, 1997. Hama Tanaman Keras Dan Alat Pemberantasannya. Bina Aksara Jakarta.

Saptana., T. Panaji, H. Tarigan dan A. Setianto. 2007. Analisis Kelembagaan Pengendalian Hama Terpadu Mendukung Agribisnis Kopi Rakyat dalam Rangka Otonomi Daerah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Makalah Seminar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. http: Journal. unud .ac.id. / abstract / soca_Saptana dkk. hal.

Subiyakto.S, 1986. Mengenal Serangga Hama Kapas dan Pengendaliannya. Penerbit Libitry. Yogyakarta.

.................., 1988. Bertanam Jagun dan Pengendalian Serangga hama. Kanisus (Anggota IKAPI). Yogjakarta.

Soeprapto H.S, 1988. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya. Jakarta

Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press. Edisi kedua. 273 hal.

……….. 2001. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu Sebagai Paradigma Baru PHT. Makalah Disampaikan pada Rapat Koordinasi Program PHT- PR di Depok, 13 Nopember 2001. 22 hal.

……….2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press. Edisi kedua- revisi. 348 hal.

17
Untung, K. 2006 a. Penerapan Konsep Pengendalian Hama Terpadu Sebagai Proses Pemberdayaan. Makalah Disampaikan pada Seminar Nasional Rapat Koordinasi Wilayah III Himpunan Mahasiswa Perlindungan Tanaman Indonesia. Universitas Brawijaya, 18 Maret 2002. 9 hal.

……….. 2007. Kebijakan Perlindungan Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1st Edition. 254 hal.

………. 2007 a. “Bisa Dewek” dan Sains Petani : Benih-Benih Pertanian Tangguh. Disampaikan pada Seminar “Bisa Dewek” dan Sains Petani: Benih-Benih Pertanian yang Tangguh, IPHTI Indramayu dan Departemen Antropologi – FISIP UI. Kamis 30 Agustus 2007. Guru Besar Perlindungan Tanaman. Fakultas Pertanian. UGM. 10 hal.
17
Wasiati, A., Soekirno, Rusmandi, Hidayat, H. Lanya, I.N. Raga, Y. Hidayat, T. Yuliani, dan A. Ahadiati. 2003. Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Padi. Direktorat Perlindungan Tanaman. Direktorat Bina Produksi Tanaman Pangan. 153 hal.

……….. 2004 a. Pedoman Teknis Perlindungan Tanaman Pangan Pemerintah Kabupaten / Kota. Direktorat Perlindungan Tanaman. Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta. 24 hal.
17
……….2004 b. Norma dan Standar Perlindungan Tanaman.Direktorat Perlindungan Tanaman. Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta. 40 hal.

Winarno. 2007. Kebijakan Publik : Teori dan Aplikasi. Penerbit Media Pressindo.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda